Dari kaca yang tersemat didalam kotak bedak, pantulan bibir yang dipulas dengan lipstik merah merekah. Setelah dilapisi pelembab sekaligus penambah kilauan bibir, cermin itu kembali dilipat dan tersimpan rapi didalam tas kecil manik-manik.
Sudah lebih dari dua jam kedua kakinya menopang tubuh yang dibalut oleh terusan bertali merah, membentuk siluet badannya yang molek. Sesekali tangannya melambai genit pada kendaraan-kendaraan yang lewat. Hingga akhirnya terdengar suara sirene dari suatu kendaraan.
"RAZIAAAAAA, RAZIAAAAAAAA !!!!" dan keadaan berubah carut marut.
Dia pun terbirit-birit lari sambil menanggalkan kedua sepatu yang dapat menambah tinggi badan 10cm. Pikirannya terlalu panik untuk bekerja, dia hanya bisa berlari sambil menghindar dari kejaran petugas. Diselingi dengan teriakan teman-temannya yang tertangkap, dia terus mencoba mencari tempat persembunyian seraya berdoa dalam hati.
"Ya Tuhan, kalo saya masih dianggap sebagai hambamu, maka tolonglah" bisiknya.
Tidak sampai tiga puluh detik dia bergumam, sebilah suara berkata :
"Pegang tanganku, cepat naik!"
Tanpa sempat terkejut berlama-lama, dia-pun menyambut uluran tangan sosok besar sambil kembali berbisik.
"ya Tuhan, daritadi kamu ada didekat saya toh, baru ngebatin langsung dikabulin"
Lalu sosok itu kembali berkata :
"Bilang apa kamu tadi?"
"Hehehe, engga bang, itu.." jawabnya malu
"Itu itu apa?"
"Ya begitu bang, bisa diem dulu. Kalo kedengeran ada yang ngobrol, para petugas itu pasti akan menangkap kita"
"Kita?" jawab pria besar dengan rantai ditangannya.
"Anu bang, saya maksudnya. Kalo abang mah, mereka ga akan kuat ngangkat"
"Maksud kamu saya gendut?"
"Engga bang, ampun. Tapi maaf bang jangan marah, bisa diam sebentar?"
"Baiklah".
*
Lima belas menit berlalu, sekarang keadaan rasanya sudah lebih aman. Sirene petugas terdengar sudah menjauh dari lingkungan yang tadi hingar bingar.
"Mas, sepertinya dibawah sudah kosong" ujar pria yang berdiri sejak 1962.
"Mas?!??!?!?!?! ABANG TEGA!!!! Ga liat apa lipstik kita? masa bibir merah gini dipanggil MAS?"
"Ya terus?"
"Mba aja, ses juga boleh" jawabnya sambil mengerling manja pada hasil sketsa yang dibuat oleh Henk Ngantung
"Maaf mas-mas yang terlihat seperti mba-mba, bisa tolong lepaskan tanganmu dari bokong saya? Risih mas mbaknya" Sang diorama raksasa seperti salah tingkah.
"Eh, iya bang" dibantu sang Patung yang kekar besar, dia turun perlahan-lahan. "Hup" kakinya kembali menginjak tanah setelah sementara bersembunyi diatas voetstuk atau kaki patung setinggi 25 meter.
"Makasi bang" jawabnya dengan suara bariton yang seusaha mungkin berubah menjadi sopran.
"Sama-sama" Jawab patung kekar itu cool.
"Eh bang, kenapa sih abang tadi nolong saya?" waria itu bertanya genit sambil memain-mainkan rambutnya.
"GR" jawab patung itu datar
"Heee?"
"Seseorang membangunku bukan tanpa alasan, aku itu adalah simbol dari suatu kebebasan yang harus dimiliki setiap manusia. Presiden pertamamu, memerintahkan Henk Ngantung untuk membuat sketsa atas aku"
"Henk Ngantung itu siapa bang?"
"Ya ampun" patung kekar itu menepuk jidatnya. "Dia itu Gubenur Jakarta yang memiliki masa jabatan paling singkat. Cuma 1 tahun kepemimpinannya"
"Satu tahun? apa dia diberhentikan karena membuat Jakarta banjir?"
"Ah mbaknya mas, jangan bercanda. Pada masa itu penyerapan kota kita ini baik. Henk Ngantung sadar diri dengan kapasitasnya sebagai Gubenur. Karena latar belakang beliau itu seniman"
"Lah ko seniman jadi Gubenur?"
"Memang kenapa? Bukannya hal itu musim lagi di jamanmu? Artis jadi anggota dewan?"
"Iya juga ya bang"
"Maka dari itu, aku berdiri disini dengan bertanggung jawab mengabadikan pembebasan yang dapat menyatukan. Kamu itu cuma Hoki, karena tadi ada didekatku"
"wah, terima kasih bang. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas jasamu?"
"Sampaikan pada mereka yang selalu merasa terpenjara, lihat aku!! Walaupun kedua kakiku terpaku penyangga setinggi 25 meter di lapangan Banteng sejak 1963, aku tetap dikenal sebagai "Patung pembebasan irian barat" Simbol kata MERDEKA. Karena kebebasan itu ada didalam jiwa"
*****
*****