
Dari judul diatas, saya akan mengakui bahwa saya adalah salah satu yang dituju untuk tulisan yang diketik oleh tangan saya sendiri.
Tulisan ini mungkin akan mewakili satu dari ketidak puasan manusia atas apa yang dia punya.
Berawal dari masa kecil saya yang sangat berbahagia (sangat) dimana Ibu saya selalu mengkonsumsikan susu hingga makanan terbaik yang dapat mereka berikan saat itu. Jelas masa itu, saya seperti bongkahan daging yang siap menggelinding.
Bagi sebagian orangtua mungkin akan merasa sangat bangga saat buah hatinya yang berusaha 5 tahun di suguhi kata "Aduh, gemuknyaaa" sambil mencubit gemas. Tapi apa yang terjadi jika kalimat yang serupa diulang saat sang anak menginjak usia 12 tahun?
Adalah saya yang selalu berjalan dengan kepala tertunduk saat teman-teman satu angkatan, memanggil saya dengan sebutan "TURBO" atau TURnunan keBO. panggilan itu tercetus saat menduduki kelas 6.
Namun saat masih sekolah dasar, saya yang berbekal ilmu bela diri pencak silat dapat menghajar siapapun anak laki-laki yang menyebut saya TURBO. Kala itu saya berambut keriting, kulit coklat terbakar, dan tubuh tambun. Penggaris kayu untuk papan tulis pernah saya daratkan ke arah punggung seorang murid karena menyebut kata itu tepat dimuka saya.
Namun kembali, saat panggilan itu dilakukan ulang saat menginjak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTA/SMP) saya seperti lumpuh. Tidak ada tendangan atau pukulan yang bisa saya lancarkan. Pertama kali, karena kata itu, saya menangis.
Saat pelajaran kesenian yang mengharuskan para siswa membawa seruling. Seruling saya hilang, tidak tau siapa yang menyembunyikan. Saya menuduh salah satu murid yang memang sering sekali menjahili saya, dan dia mengelak dengan kembali menyerang saya dengan kalimat-kalimat seperti : Dasar GENDUT, JELEK, TURBO, dll dan diiringi oleh pengulangan kata yang sama oleh teman-temannya.
Pojok kamar mandi lantai 4 gedung lama Al-azhar pusat dijalan sisingamangaraja adalah saksi, dimana saya menangis terisak, sampai udara rasanya sulit saya temukan. itu juga kali pertama, saya menggigiti lengan saya sendiri. Saya benci, oleh lemak-lemak yang tertimbun disana. Saya ingin daging lebih itu pergi, saya ingin anak-anak lelaki itu mengerti, bahwa saya sakit hati.
Saya sadar, memiliki gangguan cemas sejak dini. Saat anak seusia saya mulai melirik dan dilirik oleh lawan jenis, saya tidak mengalaminya. Lelaki yang selalu menyita perhatian saya ternyata lebih memilih sahabat saya untuk pacar pertama. Hal itu mungkin dapat saya terima, tapi saat kata "TURBO" keluar dari mulutnya, luka pertama saya rasa, dan terus ada didalam kepala.
Hari itu adalah kamis (saya ingat karena berbatik). Saya turun dari masjid selepas sholat Dzuhur yang dilaksanakan berjamaah di Masjid agung Al-azhar. Saya kembali menuju kelas karena masih ada 2 mata pelajaran lagi. Dengan masih menginjak sendal jepit, sesampainya dikelas saya tidak menemukan sepatu L.A GEAR edisi Michael jackson kesayangan saya. Seperti menghilang dan saya kelabakan mencarinya.
Sambil setengah menahan tangis (karena beberapa butir air mata terlanjur tumpah) saya mencarinya "SENDIRIAN". Karena teman-teman asik menertawakan aksi saya saat itu. Akhirnya pecah tangis saya ketika Pak ceceng (Pak rachmat) masuk kedalam kelas dan mempertanyakan saya yang masih beralas sendal, sedang teman-teman sudah berganti dengan sepatu mereka.
Akhirnya seluruh kelas dipaksa untuk mengaku dan 3 orang murid laki-laki mengambil sepatu saya dari LOTENG. Seketika sepatu saya yang berwarna dasar putih berubah menjadi coklat ke abuan. Sepanjang pelajaran PPKN yang dipimpin Pak Rahmat, saya tidak mampu meredam betapa bencinya saya pada anak-anak itu. Hingga waktu pulang sekolah, saya putuskan untuk mendatangi mejanya lalu meninju mukanya. yang masih terekam dikepala saya adalah saat saya memukulinya dengan membabi buta lalu dia bangkit dan memukul balik. Itulah pukulan pertama saya dari seorang laki-laki, saat 1 SMP.
Saya terdiam dan menangis,dia terus mendorong saya dengan umpatan-umpatan. Kata yang masih sangat menyakiti hati saya hingga sekarang adalah "GENDUT" karena itu adalah kenyataan, yang belum mampu saya lawan.
Hari itu, pertama kalinya saya tiba dirumah dan langsung masuk kekamar mandi. kembali menangis mengamati diri sendiri dihadapan cermin. Lalu menjadi hari pertama, saya resmi menjadi bulimia. Saya memasukkan telunjuk dengan paksa menuju kerongkongan. Berharap segala jenis makanan yang sudah saya telan akan keluar, dan saya tidak perlu khawatir akan menjadi GENDUT.
Itu adalah rahasia, saya dapat melakukannya dimana saja. Kata perangsangnya cukup satu : GENDUT. Jika hal tersebut mampir ditelinga, maka kamar mandi langsung menjadi sasarannya. Tidak jarang saya menangis setelah itu, lalu mengkasihanin diri sendiri.
Saya Bulimia hampir 10 tahun tanpa menaruh peduli pada efek sampingnya. Hal itu padahal jelas tidak membuat saya menjadi lebih langsing, tapi saya sedang membohongi diri sendiri dengan mengurangi perasaan bersalah atas apa yang sudah saya makan.
"Big is beautifull"
"Be yourself"
"Syukuri aja apa yang dikasih Tuhan"Itu semua adalah kalimat yang selalu saya pakai untuk menenangkan diri, hingga ada satu masa dalam diri saya berkata, CUKUP!!
Saya akui : Saya tidak nyaman. Tuhan tidak memberikan tubuh gemuk! Tuhan memberikan kita nyawa, tubuh, dan KEHENDAK. Kuncinya adalah pada kalimat terakhir. Saya sadar, saya punya pilihan.
Ada saat saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Mencoba untuk menerima bentuk tubuh saya, dan lain-lain. Tapi kenyataan itu hanya berlangsung 2 tahun. Saya belum legowo saat orang berkata "gendut lo" atau bercanda terkekeh "Alaaaahh, dasar gendut". Untuk saya, "GENDUT" adalah kata terburuk juga pedang tertajam dari apapun. Saya trauma.
Satu-satunya agar kata itu tidak lagi mampir ditelinga saya adalah : TIDAK GENDUT.
Dan saya sadar, mereka tidak meledek, tapi berkata sebenarnya. Seperti salah satu teman saya yang cukup dekat, namanya Adit. Saat saya menjalani program diet, ada saja kalimatnya "kalo Rahne gue percaya, kalo Tasya mah apa tuh" sambil menunjuk perut saya. Bahwa sesungguhnya itu adalah hal yang sangat membuat saya terluka dan saya harus akui, dia mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada jalan untuk saya kecuali berubah, bila saya memang tidak ingin kata itu mampir lagi ditelinga.
Diet secara sehat adalah pilihan saya, daripada saya harus terus menangis dalam hati dan tidak terima bahwa "gendut" itu memang kenyataan saya.
Sekarang saya menangis, membenci diri sendiri, tapi tidak mau melakukan perubahan. Saya terus menangisi dan mengutuk kegemukan saya dengan tetap melahap mie, junkfood, ice cream dengan porsi berlebihan, lalu membenci mereka yang mengatakan kenyataan?
Dalam diet ini saya lebih mengedepankan terapi atau meditasi ringan untuk diri sendiri. Seperti taat pada aturan yang saya buat sendiri. Sarapan saya hanya susu (non fat), siang saya boleh makan apa saja secara bebas sebebas-bebasnya tapi hanya 1 kali makan. Jadi saya hanya memperbolehkan diri saya mengunyah makanan selama 1 jam. Itupun setiap kunyahan saya nikmati pelan-pelan. Saya makan dengan "sadar" dan kenikmatannya luar biasa. Belum lagi, kita seakan mampu mendengat tubuhmu sendiri. karena kadang kita mengkonsumsi makanan yang "KITA MAU" bukan yang "TUBUH KITA BUTUHKAN". Malam, susu non fat kembali beraksi, dan tidak ngemil :))
Diet saya ini telah berlangsung selama 6 hari, dan lumayan sudah turun 2 kilo. Hehehehe, biasanya saya rutin diet sekitar setahun sekali. Cuma biasanya tidak sampai "langsing". Jadi sekarang tubuh saya nanggung. Dulu saya GENDUT sekali, maka itu diet sekarang ini, semoga aja bener-bener bisa sampai "langsing" hehehe.
Tapi disini saya benar-benar menggaris bawahi, bahwa semua itu pilihan. Dan tidak ada yang "
lebih baik daripada". Saat siapapun dapat berdamai dengan dirinya sendiri dan menikmati apa yang dia punyai, itu pasti akan sangat menyenangkan.
Karena sesungguhnya, Indah adalah selaras : antara kamu, dan apa yang nyaman menurutmu....
Hallo Cantik :))
************