Pages

Sunday, July 29, 2012

Sampah digantungan ranjang.

Cerpen ini terinspirasi dari lagu "cobalah mengerti" Peterpan feat Momo #cerpenpeterpan

 Saat ini matahari sedang tertidur, langit gelap sekali. Jalanan ini terlalu sempit untuk dua motor dan seorang pejalan kaki, mungkin karena itu juga langkahku menuju pulang agak terhambat. Sepatuku sudah kenyang dengan air hasil semprotan ban kendaraan roda dua yang melewati genangan air dilubang jalan. Angkasa tadi habis menangis, atau hanya aku dadanya terisak. Selama kaki-kakiku melangkah, dikepalaku hanya terbayang dimana lagi kami harus tinggal. Kehilangan pekerjaan memang bukan barang baru untukku, tapi kali ini bukan lagi tentang aku. Ini tentang sosok yang aku cinta, tidak hanya dengan kepala, tapi juga jiwa. Apa yang harus aku katakan jika kami lagi-lagi harus pergi dari tempat yang dua tahun ini sudah kami sebut "rumah"? Aku mengerti, kau sudah lelah kalau harus terus berpindah. Aku juga tau sudah terlalu banyak mimpimu yang aku ganggu. Aku hanya belum menemukan cara, bagaimana agar kau bahagia.

 "Aku tak kan pernah berhenti. Akan terus memahami. Masih Harus berpikir. Bila harus memaksa. Atau berdarah untukmu. Apapun itu asalkan kau coba menerimaku"

 Aku tidak pernah bosan memandanginya, sejak suara tangisannya membahana disela sesakku sebelumnya. Dia telah mengajarkan aku mengabaikan sakit, sejak tiba di dunia. Saat dia menangis dikedua lenganku, aku tau dia mendekap kalbuku lebih erat dari segala perekat.
Hujan turun lagi, semakin deras. Datang begitu tiba-tiba. Seperti engkau yang mungkin tidak pernah kurencanakan kedatangannya.

 Aku ingat mata ayahmu yang membelalak saat kuberikan sebatang alat tes berwarna putih dengan garis dua. Dia langsung memegangi kepalanya, menendang pintu kamar kos-nya. Aku yang kala itu belum genap dua puluh tahun hanya bisa menangis. Entah apa kalimat yang akan aku lontarkan pada nenek kakekmu. Aku ingat saat kami, orangtuamu akhirnya memutuskan pergi dari rumah masing-masing untuk mengagungkan cinta hanya berdua, sambil membawamu didalam perutku yang semakin membesar. Ayahmu yang awalnya sangat menyayangi aku, mulai berubah setiap kutanyakan soal tagihan kamar kost. Aku masih ingat jelas rasa nasi sisa kamar tetangga.

 Hari itu sepertinya kau sedang meraung-raung didalam perut, seperti menendang-nendang lambung. Aku tidak memberimu makan semalaman, dan ayahmu tidak pulang. Bungkusan coklat didepan kamar sebelah kiri kami rasanya sulit tak kuberi hirau. Hari itu kuberikan kau makanan yang tak layak. Aku tidak mengkonsumsi susu ibu mengandung, bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena lebam disekujur tubuhku, tiap aku menyebut kata rupiah ditelinga ayahmu.

 "Dan kamu hanya perlu terima. Dan tak harus memahami. Dan tak harus berpikir. Hanya perlu mengerti. Aku bernafas untukmu. Jadi tetaplah disini. Dan coba menerimaku"

 Sekarang tubuhku basah. Aku sendirian, memegangi kantung berisi bakwan dan beberapa jenis gorengan. Aku tau kau lebih suka pisang molen, tapi tadi tampaknya aku kehabisan. Maaf nak, aku mungkin tidak pantas disebut ibu. Seluruh tubuhku penuh dengan tangan laki-laki yang bahkan tak kutau namanya. Yang aku tau, kamu selalu menangis saat teman-temanmu membicarakan aku, atau pekerjaanku. Aku mungkin telah salah menggunakan senyum yang kau ajarkan. Aku mengaplikasikannya kepada seluruh tamu yang datang, berharap mereka memberikan kepingan-kepingan uang, agar kau bisa merasakan susu yang tidak pernah mampu keberikan dulu.

 Hujan sudah mulai reda, aku kembali menuju pulang, menuju engkau yang sebelumnya aku lihat diingatan. Kau memiliki alis yang sama dengan ayahmu, tebal. Alisku tipis, jelas kau jauh lebih cantik. Ayahmu pasti akan sangat terkejut jika melihatmu, walau aku pernah berharap kalian lebih baik tidak pernah bertemu.

 Pintu kayu ini rasanya sudah menjadi sisa rayap. Perlu teknik khusus untuk membukanya, tidak semua orang bisa, hanya aku, dan dia. Meja kayu bundar dengan taplak kotak2 yang semakin menguning itu terisi piring kosong. Ada sisa kuah kaldu disana, aku tersenyum. Setidaknya aku tau, perutmu sudah terisi. Dan dengan alphanya cahaya lampu, aku juga tau kau telah terlelap. Ini pukul empat pagi. Setelah jacket hitam ini kuletakkan di kursi plastik putih, aku mengambil gelas, memberikan hujan pada kerongkongan, hingga aku melewati ruang dengan penutup kain kuning muda. Kusibakkan mereka hingga aku lihat jelas kamu. Kamu yang tangisannya bisa menusuk lambungku, kamu yang tawanya mampu membuatku percaya kehadiran surga didunia, kamu yang kucintai sampai nadi. Kamu... Kamu tergantung dengan tali mengalungi lehermu. Kakimu tidak lagi menginjak tanah. Aku yang kehilangan udara, berteriak sekuat tenaga, lingkunganku gelap seketika.

 "Cobalah mengerti. Semua ini mencari arti. Selamanya takkan berhenti. Inginkan rasakan. Rindu ini menjadi satu. Biar waktu yang memisahkan."

Tuesday, June 12, 2012

Perjalanan Mimpi

Bagaimana jika mimpi yang biasa ditemui saat menutup mata, sekarang justru menghampar ketika mata terbuka? Segala letupan rasa yang tidak mungkin mampu saya ucapkan, tapi rasanya terlalu egois untuk disimpan. Mungkin sekedar berbagi pengalaman, atas apa yang sebenernya semua orang mampu lakukan.

*

Saya adalah pencinta tokoh Marie Antoinette dan entah kenapa rasanya jantung saya selalu berdetak lebih cepat ketika membaca kisah hidupnya. Dan betapa saya ingin menginjakkan kaki di tanah kelahiran beliau, Austria dan juga tempatnya kehilangan nyawa, Perancis. Dua negara itu adalah trmpat yang selalu saya impikan. Benua Eropa adalah dongeng yang menurut saya terlalu indah. Saya hanya membacanya lewat cerita atau buku-buku. Dongeng Anderson pun sepertinya banyak mengambil latar belakang Eropa. Saat duduk dikelas enam SD rasanya masih terlalu kecil untuk merengek menghampiri dua Negara impian saya itu. Walaupun rasanya Jerman dan Belanda sudah tinggal sejengkal (jengkal Dinosaurus?) dari Perancis dan Austria. Namun saat itu kunjungan keluarga kami ke Eropa adalah untuk pengobatan adik saya yang Tuna Rungu. Jadi rasanya untuk adegan menangis paksa orangtua ke dua negara tersebut rasanya tidak mungkin. Jadi sementara mimpi itu tertunda. ingat, TERTUNDA. Jadi suatu hari, saya akan menuju kesana. Pasti. Waktu terus bertambah seiring dengan Jakarta yang semakin sesak. Dan saya lebih suka membuat kebisingan sendiri dengan buku-buku yang ceritanya bisa menyesaki kepala. Buku-buku tersebut menjadi seperti naskah, mata adalah kamera, dan kepala seperti dipenuhi lakon-lakon titisan atas apa yang saya baca. Seringkali kaca dikamar menjadi partner untuk sekedar menemani saya membaca puisi atau dialog-dialog cerita dari buku-buku tersebut. Kisah Mahabrata yang saya gilai sejak kecil juga sering menjadi cikal bakal permainan dialog solo dihapan cermin. Kamar saya, panggung saya.

*

Tahun 2003, saya tercatat menjadi mahasiswa jurusan psikologi Universitas Paramadina. Pada suatu sore, seorang teman seangkatan saya dengan jurusan filsafat sedang bercerita tentang teater yang sedang diikutinya. Seperti dihipnotis, saat itu juga saya langsung menyeletuk "Bagaimana cara mendaftar di teatermu? Aku mau ikut". Gayung bersambut, mahasiswa filsafat bernama mario itupun menyebut satu tempat "Bulungan". "Iya, Bulungan dimananya? GOR?" tanya saya. "Bukan, disamping wapres". Tidak ada bayangan tempat sama sekali dibenak saya. setau saya, bulungan itu SMU 70, dan GOR adalah gelanggang olahraga karena beberapa kali saat SMU, sekolah saya mengikuti kejuaraan basket disana. Atas penjelasan Mario yang menurut saya singkat, padat, dan tidak jelas itu, akhirnya saya membulatkan tekad untuk mendatangi tempat yang masih samar-samar tersebut.

Sesampainya dirumah, saya dengan antusias bercerita kepada mama "Mam, aku mau ikut teater. Besok aku mau daftar?". Sebelumnya, orangtua saya sama sekali tidak ada yang berlatar belakang seni, jadi saat pernyataan itu saya kelakarkan, mama saya hanya menaikan alis kirinya, dibarengi dengan dua huruf : H dan A, dibaca = HA?

Karena tampang yang pasang malam itu cukup serius, akhirnya mama mengiyakan dengan syarat "Tapi mama yang anter ya". Dan saya hanya menganggukkan kepala saat itu. Keesokan harinya, dikampus sewaktu matahari sedang lucu-lucunya (baca : panas banget) Mario ternyata tidak saya temukan batang hidungnya dikampus. Ponselnyapun berkali dihubungi hanya dijawab oleh mesin bersuara wanita atau wanita bersuara mesin. Berhubung saya kadung bilang mama nanti malam akan diantar ke bulungan jadi show must go on.

Sepulang dari kampus pada waktu sore, kami menanti pukul 7 tiba di kediaman nenek saya didaerah wijaya. Pukul setengah tujuh saya mulai memberika kode-kode kepada mama yang sedang asik mengobrol bersama tante-tante saya yang lain. Setelah ribuan kode saya layangkan, akhirnya mama sadar juga setelah kode yang entah sudah keberapa juta. "Kak, yang mana tempatnya?" tanya mama yang saat itu mengemudi. "Gak tau, sebelahnya itu kali" jawab saya sambil menunjuk GOR basket bulungan.

Sejauh mata memandang kok ya gak ada penampakan anak-anak teater. Akhirnya kami memutuskan bertanya pada seorang lelaki dibalik sebuah gerobak minuman "Mas, wapres dimana ya?". "Ooh, wapres mah disebelah neng. pas disebelah gedung ini. Parkir sini aja". Akhirnya kami menurut, memarkir mobil di GOR bulungan, lalu berjalan kaki mengikuti arah telunjuk lelaki tadi. Perjalanan kaki kami menuju wapres melewati banyak rupa yang belum pernah saya lihat sebelumnya (maklum, saya katro berat) dari mulai lelaki dengan cincin yang disematkan diantara ramnbut gimbalnya, lelaki gondrong berkeliaran dimana-mana, sampai orang bertato dengan tindikan mungkin lebih dari lima di satu telinga. Mama cuma berbisik "kak, yakin kak?" sedangkan saya malah senyum-senyum sendiri dalam hati "Waaah, tempat ini keren sekaliii".

 Sejak keluar pintu gerbang GOR dengan berjalan kaki menuju wapres, mulai terdengar alunan gitar dan drum menyanyikan lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya (Saya pendengar setia radio) jadi saya pikir "waaa itu pasti lagu karangan mereka sendiri, keren!). Sekali lagi kami bertemu dengan seorang penjual minuman tepat didepan gerbang bangunan setelah GOR "Mas, bulungan tempat teater dimana ya?" tanya saya dengan lebih jelas. Dan sang penjual minuman itupun mengeluarkan ibu jarinya kearah dalam gerbang "tuh". dan sayapun berhambur masuk, meninggalkan sedikit langkah mama yang memstung.

*

Sebuah meja kecil menghampar. Kenapa kecil? meja itu berukuran sekitar 2x 2 meter dengan tinggi tidak lebih dari 80 cm. kursi-kursi mungil pun melingkari meja itu. mama yang mematung membuat saya harus segera mengambil keputusan langkah apa yang harus saya amnbil, hingga akhirnya saya memutuskan menjejakan kaki saya kearah kumpulan orang-orang yang sedang melingkari meja tersebut 'Permisi, apa benar disini tempat latihan taater?". Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut setengah memutih memegang cangkir mungil mendongak "Kamu cari siapa?" saya mendadak bingung juga "Cari siapa? Cari tempat latian teater sih mas. Saya dikasih tau temen saya namanya Mario." Tiba-tiba dia menjawab 'Oh mariooo, kamu siapa?" saya buru-buru menjulurkan tangan "TAsya mas, saya mau ikut teater" dia lalu tersenyum sambil menyeruput tehnya "Teater apa? disini banyak lho teater" dan saya yang berdiri mati gaya akhirnya berkata "Apa aja mas. Mas kenal mario?". "kenallah, bentar lagi juga orangnya dateng" kemudian mama mendekat, ikut memperkenalkan diri, lelaki setengah tua itu menyebut namanya : Aji.