Ada hal yang tidak biasa di Jakarta saat hari Lebaran tiba : Maraknya kendaraan yang tiada. Jalanan begitu lenggang dan bersahabat, kadar karbondioksida pada udara juga berkurang.
Selepas senja, saat beberapa keluarga masih asyik menikmati liburan dirumah, seorang lelaki berjubah putih tanpak kebingungan. Keringat menyembul dari pori-porinya yang besar. Matanya begitu awas akan sekeliling. Pria itu sadar, dirinya akan menjadi santapan hangat para pewarta berita kelak. Jasadnya akan menjadi musuh masyakarat, kasusnya akan memenuhi kepala para polisi, namun sekali lagi, dia sudah tidak perduli.
Jalan layang malam itu begitu kosong, namun hati dan pikiran laki-laki tersebut terlalu penuh. Keputusan memanjat kaki bangunan setinggi dua puluh tujuh meter pun ia lakukan. Sekali lagi, pria ini merasa terancam, dia merasa diikuti hingga perlu tempat untuk bersembunyi.
"Apa kamu tidak punya cukup kata untuk bilang permisi?" suara yang cukup berat sontak membuat pria yang merasa seorang diri ini kelabakan. Bagaimana mungkin dari ketinggian dua puluh tujuh meter dari tanah, ada juga manusia gila macam dirinya yang bersembunyi.
Bibirnya bergetar, suaranya tak mampu keluar, keringatnya semakin berpencar
"Selain tidak mampu bersuara, ternyata kamu juga tidak punya etika ya?" kali ini suara itu menyerangnya lagi.
Pria berkulit sawo matang itu kini mengacungkan senapannya
"Siapa disana? Keluarkan batang hidungmu kalau berani!!" suaranya berusaha menjadi lantang, padahal nyalinya bagai plastik dibakar api, mengkerut.
"Lah kamu gimana sih? Naik ke tempat saya, misuh-misuh, terus minta liat hidung. Absurt sekali kau anak muda" jawab suara itu sekenanya.
Seketika jantung pemuda berusia kirasan dua puluh tiga tahun seperti berhenti. Ternyata dia telah tiba di tempat sebuah patung yang berdiri sejak 1963.
"Ka ka ka kamu ko bi bi bi sa ngomong?" tanya si pria berjubah putih dengan terbata-bata.
"Nah kamu, kenapa bisa sampai disini?" patung itu kembali bertanya.
"Ah, ini pasti mimpi. Mana mungkin patung ko bisa ngomong" lirih si pria berjenggot tebal.
"Ah, ini pasti mimpi. Manusia ko kurang kerjaan amat manjat-manjat kesini" lirih patung itu juga.
Laki-laki dengan rompi dan tas ransel hitam itu semakin carut marut. kejadian ini sungguh diluar nalarnya sebagai manusia. Giginya bergetar, lelaki itu, takut.
"Nak, tolong mukamu jangan bengong. Aku berdiri sambil menunjuk sejak tahun 1963, tak pernah melihat dari dekat begini wajah manusia. Tega sekali kau suguhkan mimik yang tak enak dipandang mata begitu"
"Tapi tapi tapi, tapi saya...."
"Ssstt, sudahlah. Ayo duduk, ceritakan apa yang terjadi"
"Jadi begini om, saya sedang dikejar-kejar orang" jawab si pemuda
"Maaf, belum pernah ku kawinkan tante-mu, jadi jangan panggil saya om. by the way, siapa yang mengejarmu?"
"Banyak sekali oarangnya. Atau mungkin justru seluruh rakyat Indonesia"
"Eh ya ampun, memang apa yang kau lakukan?"
"Anu om, eh pak...." lelaki ini tak berani melanjutkan kata-katanya.
"Anu-nya siapa? ngomong jangan berbelit-belit. Kamu bukan anggota dewan kan?"
"iya pak bukan. Anu, saya sebenernya..... teroris pak" saat menucap kata terakhir, sang lelaki ini langsung menutup mata. dia belum siap mendapat pengadilan dari sosok seberat sebelas ton ini.
"teroris?" tanya sang patung dengan mata terbelalak.
"iya pak" jawabnya sambil menunjuk.
"teroris itu apa ya?" tanya dirgantara dengan polos.
"Tugas kami menteror seluruh kelompok yang berbeda pendapat. Tidak sama, kami sikat?"
Patung itu diam dan mulai berpikir, "Sejak kapan kita semua hidup harus seragam?"
"maksud bapak?" tanya si pemuda.
"Sejak saya bediri disini, saya tidak melihat persamaan dari penampakan luar bangsa ini. SEmua berbeda, baik gaya maupun kata. dan itu yang selama ini membuat saya Percaya diri mengabarkannya ke dirgantara, bahwa Negara kami ini negara kaya. dengan ketidak saam penampilan, dunia harus tau, dalam hati para penduduk Indonesia itu sama, merdeka.
Friday, September 30, 2011
Friday, September 16, 2011
i love u marchi
Hari ke-empat saya bersama si cantik march yang saya panggil Marchi. Saya menyempatkan diri untuk memandikan teman kencan seminggu saya ini. Tanpa terasa, sebentar lagi Marchi akan pergi dari garasi. Tempatnya selama empat hari belakangan.
Hari ini, perjalanan Nissan March akan sedikit berliku. Saya dan partner siaran saya Hilbram Dunar mendapat undangan dari suatu toko sepatu di Plaza Indonesia. Kebetulan saat ini, kendaraan pribadi Hilbram sedang diurus asuransi. Kebetulan, Hilbram sangat penasaran untuk menjajal rasanya menghuni Nissan March.
Hal ini tidak akan menjadi begitu rumit, jika saja supir pribadi saya tidak izin. Karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menyupir, maka langkah pertama adalah memikirkan bagaimana caranya nissan march dapat tiba dikantor bersama saya?
R
Entah kenapa seketika saya merasa begitu jenius saat akhirnya menemukan jalan keluar. Jadi, hari ini adik dan kekasih saya akan bermain futsal di kuningan. Saya akan diantar adik saya dengan Nissan March sampai dikantor. Kekasih saya akan datang menjemput adik saya dikantor dengan kendaraan pribadinya. Setelah siaran saya selesai, maka saya dan Hilbram sebagai pengemudi segera menuju plaza indonesia untuk menghadiri undangan. Sepanjang jalan, hibram selalu bergumam "lo adalah orang yang paling merugi tas. Mobil seenak ini dan lo gak bisa nyetir". Saya sedikit mengangguk-angguk. Dalam pikiran sih kebayang "iya juga ya". G
Hilbram juga bilang "tarikannya enak banget. Apa gue ganti march aja ya? Irit kayanya". Hilbram memang penggemar dan pemerhati otomotif. Mungkin itu yang membuat dia bertahan menjadi icon host F1. Sampai di Plaza Indonesia, tak sulit mencari parkir, penata parkir di mall tersebut tampak memanggil-manggil. Akhirnya kami tiba tepat waktu, dan acara berlangsung cukup seru. Saya dan Hilbram mendapat hadiah sepasang sepatu. Senang sekali rasanya!
Nah, sekarang kami kembali memutar otak untuk rute pulang. Saya, Hilbram, March, dan ketidak mampuan saya menyetir. Kami putuskan, Hilbram akan mengantar saya menuju tempat adik dan kekasih saya bemain futsal. Tibalah kami di kuningan dan Hilbram pulang dengan membawa marchi. Setelah usai permainan futsal, saya dan adik menumpang salah seorang teman yang memang tinggal di kawasan Bintaro, dimana disitulah pula kawasan Hilbram bemukim. Kami diantar menuju rumah hilbram.
Tiba dirumah hilbram, partner siaran saya itu sudah lengkap dengan pakaian tidurnya. Memberikan kunci pada adik saya sambil berkata "petualangan keliling Jakarta begini gak akan terjadi kalau kakak lo bisa nyetir". Adik saya dan Hilbram terbahak. Saya akhirnya berkata "iyaaaa, ntar gue belajar nyetir!!". Saya bertekad, saya akan belajar nyetir setelah acara #7dayswithmarch! !
Tapi ngomong-ngomong, acara putar-putar Jakarta itu gak akan seseru itu, tanpa marchi! :D
Hari ini, perjalanan Nissan March akan sedikit berliku. Saya dan partner siaran saya Hilbram Dunar mendapat undangan dari suatu toko sepatu di Plaza Indonesia. Kebetulan saat ini, kendaraan pribadi Hilbram sedang diurus asuransi. Kebetulan, Hilbram sangat penasaran untuk menjajal rasanya menghuni Nissan March.
Hal ini tidak akan menjadi begitu rumit, jika saja supir pribadi saya tidak izin. Karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menyupir, maka langkah pertama adalah memikirkan bagaimana caranya nissan march dapat tiba dikantor bersama saya?
R
Entah kenapa seketika saya merasa begitu jenius saat akhirnya menemukan jalan keluar. Jadi, hari ini adik dan kekasih saya akan bermain futsal di kuningan. Saya akan diantar adik saya dengan Nissan March sampai dikantor. Kekasih saya akan datang menjemput adik saya dikantor dengan kendaraan pribadinya. Setelah siaran saya selesai, maka saya dan Hilbram sebagai pengemudi segera menuju plaza indonesia untuk menghadiri undangan. Sepanjang jalan, hibram selalu bergumam "lo adalah orang yang paling merugi tas. Mobil seenak ini dan lo gak bisa nyetir". Saya sedikit mengangguk-angguk. Dalam pikiran sih kebayang "iya juga ya". G
Hilbram juga bilang "tarikannya enak banget. Apa gue ganti march aja ya? Irit kayanya". Hilbram memang penggemar dan pemerhati otomotif. Mungkin itu yang membuat dia bertahan menjadi icon host F1. Sampai di Plaza Indonesia, tak sulit mencari parkir, penata parkir di mall tersebut tampak memanggil-manggil. Akhirnya kami tiba tepat waktu, dan acara berlangsung cukup seru. Saya dan Hilbram mendapat hadiah sepasang sepatu. Senang sekali rasanya!
Nah, sekarang kami kembali memutar otak untuk rute pulang. Saya, Hilbram, March, dan ketidak mampuan saya menyetir. Kami putuskan, Hilbram akan mengantar saya menuju tempat adik dan kekasih saya bemain futsal. Tibalah kami di kuningan dan Hilbram pulang dengan membawa marchi. Setelah usai permainan futsal, saya dan adik menumpang salah seorang teman yang memang tinggal di kawasan Bintaro, dimana disitulah pula kawasan Hilbram bemukim. Kami diantar menuju rumah hilbram.
Tiba dirumah hilbram, partner siaran saya itu sudah lengkap dengan pakaian tidurnya. Memberikan kunci pada adik saya sambil berkata "petualangan keliling Jakarta begini gak akan terjadi kalau kakak lo bisa nyetir". Adik saya dan Hilbram terbahak. Saya akhirnya berkata "iyaaaa, ntar gue belajar nyetir!!". Saya bertekad, saya akan belajar nyetir setelah acara #7dayswithmarch! !
Tapi ngomong-ngomong, acara putar-putar Jakarta itu gak akan seseru itu, tanpa marchi! :D
Subscribe to:
Posts (Atom)